Rabu, 02 Desember 2015

DAPOK DAN DOGAK*

Zaman dahulu kala ada sepasang suami isteri yang bernama Damia dan Kolikng, hidup mereka sangat bahagia, setelah lama mereka menikah akhirnya Damia pun hamil  anak yang pertama. Kehamilan anak pertamanya ini membuat rasa sayang Kolikng semakin bertambah. Namun, pada saat bulan terakhir Damia akan melahirkan, Kolikng sang suami tercinta terpaksa meninggalkan isteri tercintanya untuk berlayar ke Pulau Jawa bersama dengan adiknya Salulutn untuk berdagang. Setelah Damamak menghiliri sungai, tiba-tiba kapalnya menabrak kayu sengkuang. Ternyata di situ rumahnya Dogak.
Merasa tidurnya ada yang mengganggu, Dogak pun terbagun  “Eh siapa yang berani membangunkan saya”, kata Dogak. Kolikng yang berada dalam kapal itu pun menjawab pertanyaan Dogak “Bukan saya yang membangunkan kamu”, kata Kolikng
Dogak adalah teman dari istri Kolikng. Sehingga pada saat melihat Kolikng di situ Dogak pun bertanya,“Dengan siapa istrimu di sana?” kata Dogak. Kolikng yang merasa tidak suka terhadap Dogak pun akhirnya menjawab pertanyaan itu “Tidak ada, mau mengganggu istri saya kerjamu nanti” kata Kolikng. Sedangkan Dogak tetap bersikeras untuk dapat mengunjungi Damia. Dan kembali Dogak menjawab “Masa mau mengganggu istri kawan, saya hanya mau menemaninya saja”, kata Dogak.
Tidak lama setelah Kolikng lewat, Dogak pun pergi ke hulu dengan menggunakan sampan, berdayung menyusuri sungai sampai akhirnya di tepi kali dekat rumah Damia. Dogak pun memanggil-manggil Damia, “Oh, Damia ada tidak kamu?” kata Dogak. Mendengar panggilan temannya, Damia pun langsung menjawab panggilan Dogak. “Aku ada di dalam, masuklah”, kata Damia. Rasa tidak suka Kolikng terhadap Dogak ternyata beralasan. Dogak berbohong dengan mengatakan bahwa Koliknglah yang menyuruh Dogak datang untuk menemani Damia. “Saya disuruh Kolikng menemani kamu, untuk mengurus kamu melahirkan nanti”, kata Dogak.
Damia yang merasa tidak mendapat pesan sebelumnya dari sang suami atas kedatangan Dogak secara halus menolak kehadiran Dogak. “Ah, saya sendiri juga bisa”, kata Damia. Mendapat jawaban yang menjurus ke arah penolakan akhirnya Dogak memakai nama Kolikng sebagai senjata untuk dapat bertemu. “Tidak tahulah, saya hanya disuruh Kolikng saja” kata Dogak. Mendengar nama suaminya disebutkan maka Damia pun mempersilahkan Dogak untuk masuk ke dalam rumah.
Ternyata tidak hanya sehari dua hari, namun sampai berminggu-minggu lamanya Dogak tinggal di rumah Damia. Sampai suatu hari Dogak mengajak Damia untuk bermain ayunan di depan halaman rumah. Karena Damia sedang hamil besar ia pun menolak ajakan Dogak.
 “Oh Damia kita main ayunan?” kata Dogak.
“Ah saya tidak mau, saya kan sedang hamil tidak tahukah kamu?”, kata Damia.
Damia memang sedang menunggu hari-hari terakhir akan melahirkan anaknya.
“Kalau mau main ayunan, kamu sendiri saja, saya tidak mau”, kata Damia.
“Tidak! Ayolah”, kata Dogak. Dogak tetap merayu Damia untuk menemaninya bermain. Kemudian digantungnya anyunan, lalu memaksa Damia bermain ayun, karena dipaksa, Damia pun akhirnya menemani Dogak bermain.
“Siapa yang mengayun  dulu”, kata Damia.
“Saya saja yang mengayun duluan”, kata Dogak.
“Ayunkanlah saya, biar saya duluan”, kata Damia.
“Tidak, biar kamu saja yang mengayun saya duluan”, kata Dogak.
“Baiklah”, sahut Damia.
Si Dogak pun duduk di ayunan. Lalu diayunlah si Dogak oleh Damia. Si Dogak terlempar ke Jawa, tetapi beberapa saat kemudian datang lagi si Dogak. “Sekarang kamu lagi”, kata Dogak. Damia yang merasa sudah bermain pada giliran pertama pun menolak saran Dogak. “Tidak, saya tidak bisa, saya sudah hampir melahirkan”, kata Damia. “Tidak bisa, sayakan tinggal membalas lagi, masa tidak mau”, kata Dogak. Lalu oleh Dogak, Damia dipaksa duduk di kursi ayunan dan kemudian diayunkannya Damia hingga  terlempar ke kebun Liak Pak Macan.
Setelah terlempar, Damia tidak bisa pulang lagi karena ketika terhempas ke tanah ia langsung melahirkan di kebun Liak milik Pak Macan. Secara kebetulan, istri Pak Macan pun juga mau melahirkan. Pak Macan tidak mengetahui kalau ternyata di dalam kebun Liak miliknya ada seorang wanita yang melahirkan di sana.
Pada keesokan harinya, pada saat Pak Macan hendak mengambil Liak ia terkejut melihat ada seorang wanita bernama Damia terbaring lemah di kebun Liak miliknya. “Saya mau mengambil Liak saja”, kata Pak Macan. Karena merasa heran maka Pak Macan pun bertanya “Kenapa kamu begini Damia”, kata Pak Macan. Damia yang masih merasa lemah pun akhirnya menceritakan kejadian yang dialaminya sampai ia melahirkan di kebun Liak milik Pak Macan. “Saya diayunkan Dogak sehinga saya terlempar sampai ke sini” kata Damia. Mendengar cerita Damia Pak Macan pun merasa iba dan akhirnya menyuruh Damia untuk tinggal di rumah Pak Macan. “Kalau begitu pulang ikut saya saja” kata Pak Macan.
Pak Macam pun segera mengambil dan mencabut Liak yang ada dikebunnya. Kemudian barulah si Damia dibawa pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, istrinya pun melahirkan seorang anak lelaki sama dengan anaknya Damia. Anak mereka laki-laki semua. Lalu Pak Macan memelihara dengan baik anaknya dan anak Damia itu.
Ternyata nun di rumah Damia, Dogak juga hamil karena menelan “sengkalan”. Ia juga melahirkan anak laki-laki. Anak Dogak diberinya nama Dapok. Setelah lama kemudian, anak Damia dan anak Pak Macan pun semakin besar demikian juga Dapok. Setelah anaknya sudah besar, Kolikng pun datang dari berlayar. Kilikng pulang ke rumahnya, kemudian bertambat dan memukul gong sebagai tanda Kolikng sudah datang. Di dalam rumah, Dogak senang dengan kedatangan Kolikng. Setelah mendengar bunyi gong itu, ia berkata kepada anaknya “Dapok, ayahmu sudah datang”, kata Dogak.
Kemudian diambilnya bambu “triboh” dan dipukulnya sebagai tanda menyambut pukulan gong Kolikng. Kolikng pun naik ke rumahnya sembari membawa segala barang-barang hasil perlayarannya di negeri seberang.
“Eh kenapa kakak saya begitu, saya lihat tidak seperti itu kakak saya dulu”, kata Salulutn ketika melihat Dogak. Salulutn heran melihat kakaknya Damia yang berwajah cantik tiba-tiba berubah agak jelek. “Jangan heran, akulah istri Kolikng, tidak tahukah siapa yang membantu saya melahirkan? Hidung saya sengau dimasuki cicak, rambut saya acak-acakan disarangi semut, jangan heran”, kata Dogak. Kolikng diam saja, kemudian dibukanya kue lalu diberikannya kepada Dapok.
“Ah tidak mau Pak, saya mau belacan busuk saja”, kata Dapok Lalu diberikannya belacan busuk kepada Dapok. Orang yang kelaparan memakan belacan yang diberikan ayahnya kepadanya.
“Saya lihat itu bukan istrimu Damia melainkan ia adalah Dogak”, kata Salulutn.
“Jangan begitu, jangan percaya dengan Salulutn, dia bohong”, kata Dogak. Kolikng pun percaya dengan Dogak. Semakin hari semakin besar si Dapok.
Di tempat lain, terlihat Pak macan membuat gasing dua buah, satu untuk anaknya dan yang kedua untuk anaknya Damia. “Kalian Sampuatn Benyuti dan Peti Benyanyi, coba kalian menjemput Dapok untuk bermain gasing bersama kalian”, kata Pak Macan.
“Di mana pondok Dapok”, kata mereka.
“Tahu nanti kalian”, kata Pak Macan.
Setelah selesai membuat gasing untuk Sampuatn Benyuti dan Peti Benyanyi, keesokkan harinya Pak Macan mengulingkan kelapa sehingga sampai ke pondok Dapok. “Kalian berdua ikuti kelapa tersebut. Kelapa yang akan menuntun kalian ke mana harus menemui Dapok”, kata Pak Macam kepada dua anak tersebut. Setelah itu, berangkatlah mereka mengikuti gelindingan kelapa hingga akhirnya dapat bertemu dengan Dapok. Sesampainya mereka di sana, tujuannya adalah mengajak Dapok bermain gasing bersama.
“Dapok, ayo kita bermain gasing”, kata Sampuatn dan Peti.
“Tunggu dulu, saya mau makan”, kata Dapok.
“Naik dulu kalian”, kata Kolikng.
“Kami di sini saja di halaman”, sahut mereka.
“Ah, naik saja”, kata Kolikng. Karena didesak terus untuk naik oleh ayahnya Dapok, mereka berdua pun kemudian naik ke rumah tersebut.
“Lihat Kolikng saya lihat itu sepertinya anakmu. Lihat gayanya, seperti gaya kamu, mukanya seperti muka kamu”, kata Salulutn. Mendengar pembicaraan antara Kolikng dan Salulutn, Dogak yang mengaku sebagai istri Kolikng menyela “bohong”, seru Dogak. “Lihatlah kalau saya perhatikan, dia seperti anak kamu”, kata Salulutn kepada Kolikng. Lalu diambilnya kue kemudian diberikannya kepada mereka berdua. Sampuatn Benyuti dan Peti Benyanyi pun memakan dengan lahap keu pemberian Kolikng.
“Ayo Dapok kita bermain gasing”, kata mereka.
“Ya tapi tunggu dulu,” kata Dapok.
Kemudian Dapok meminta gasing kepada ayahnya, “Pak minta gasing untuk saya bermain dngan dua orang itu”, kata Dapok. Kolikng lalu memberinya gasing yang terbuat dari perunggu.
Setelah itu, mereka pun bermain hingga berhari-hari. Mereka sudah merasa lelah. Dapok selalu salah memangka (memukul buah gasing lawan dengan buah gasing). Setelah capek bermain berhari-hari, akhirnya mereka memangka gasing Dapok hingga terbang ke arah jalan mereka pulang ke rumah. Kemudian mereka mengambil gasing Dapok sambil berlari pulang.
“Oh Pak gasing saya hilang dibawa dua orang anak itu”, kata Dapok.
“Ey, anak-anak itu dibunuh saja Kolikng”, kata Dogak ibunda Dapok.
“Ah, kamu kan masih ada gasing yang lain”, kata Kolikng menenangkan Dapok.
“Pak, saya mau makan sayur belacan”, kata Dapok. Mendengar keinginan Dapok, Kolikng pun memberikannya. Dapok pun dengan lahapnya memakan sayur belacan tersebut.
Keesokan harinya datang lagi mereka berdua mengajak Dapok untuk bermain gasing.
“Dapok, ayo kita bermain gasing lagi”, kata mereka.
“Tunggu, naiklah dulu saya mau makan”, kata Dapok.
“Makan dululah, nanti baru bermain gasing”, kata Kolikng.
Setelah Dapok selesai makan.
“Oh Pak, minta gasing untuk saya bermain dengan dua orang itu”, kata Dapok.
Kolikng pun memberikan gasing perak kepada Dapok. Mereka pun bermain gasing seharian hingga merasa kecapekan. Setelah bermain seharian, akhirnya Sampuatn Benyuti dan Peti Benyanyi memangka lagi gasing Dapok hingga terbang ke arah jalan mereka pulang ke rumah. Kemudian mereka berlari sambil mengambil gasing Dapok untuk dibawa pulang ke rumah.
Sudah dua buah gasing Dapok hilang diambil oleh anak Pak Macan dan anak Damia. Setelah sampai di rumah mereka memberitahukannya kepada Pak Macan. “Bagus, kerja kalian bagus”, kata Pak Macam. “Kalian harus menghabiskan gasingnya Dapok. Ajak terus dia bermain”, kata Pak Macan. Benar saja, keesokkan harinya, mereka pergi lagi ke rumah Dapok untuk diajak bermain gasing bersama. Mereka melakukan ini karena memang disuruh Pak Macan demi menghabiskan gasing Dapok. Mereka selalu menang padahal gasing mereka hanya terbuat dari kayu tapang saja. “Habiskan saja gasing Dapok”, kata Pak Macan.
Mereka kemudian pergi ke rumah Dapok. Sesampainya di sana mereka mengajak Dapok bermain lagi. Dapok selalu punya kebiasaan yang sama. kalau diajak bermain gasing pasti ia harus makan terlebih dahulu.
“Dapok, ayo kita bermain gasing lagi”, kata mereka.
“Tunggu, naiklah dulu saya mau makan”, kata Dapok.
“Makan dululah, nanti baru bermain gasing”, kata Kolikng.
Lagi-lagi setelah Dapok selesai makan.
“Oh Pak, minta gasing untuk saya bermain dengan dua orang itu”, kata Dapok.

Ibu Dapok si Dogak meradang dan melarang anaknya bermain “Nanti habis gasing kamu. Kalau hilang lagi nanti bunuh saja anak itu!”, kata Dogak dengan mimik berang. Lalu mereka bermain lagi, setelah capek bermain seharian. Keduanya pun memangka lagi gasingnya Dapok terbang ke arah jalan mereka pulang. Mereka pun berlari sambil mengambil gasing Dapok yang terbuat dari tembaga tersebut. Dapok pun berlari pulang ke rumahnya dan mengadukan perbuatan dua orang anak itu kepada Kolikng. “Pak, mereka mengambil gasingku lagi”, kata Dapok. “Sekarang habislah gasing kamu. Tinggal gasing emas saja lagi”,  kata Kolikng.
Keesokan harinya dua orang anak itu datang lagi ke rumah Dapok dan mengajak Dapok bermain gasing. Melihat kedatangan dua orang anak ini. Dapok pun mau diajak bermain gasing tetapi diingatkan oleh ibunya Dogak untuk berhati-hati. “Jangan sampai gasing kamu hilang lagi”, kata Dogak kepada Dapok. “Kalau sampai hilang lagi gasing ini bunuh saja mereka, Kolikng!”, seru Dogak geram. “Jangan, saya lihat anak itu persis wajah kamu”, kata Salulutn berbicara kepada Kolikng.
“Ah tidak bisa, kalau gasing emas ini hilang lagi, mereka berdua harus dibunuh”, kata Dogak.
Mereka berdua pun bermain gasing lagi dengan Dapok. Kolikng membiarkan saja Dapok bermain dengan kedua anak itu. Lagi-lagi mereka memangka terbang ke arah jalan mereka pulang gasing emasnya Dapok sehingga mereka berlari sambil mengambil gasing emas Dapok. Sampuatn Benyuti dan Peti pun bergegas pulang ke rumah. Sesampai di rumah, mereka duduk di kiri dan kanan Pak Macan. Kemudian Kolikng pun mengejar mereka dengan membawa parang untuk membunuh mereka karena telah menipu dan mengambil gasing-gasing Dapok anaknya.
Kolikng kelihatannya mengamuk dengan buasnya. Sesampainya di halaman rumah Pak Macan, ia menebas segala buah-buahan yang ditanam Pak Macan. Pohon-pohon yang ada di halaman rumah Pak Macan pun ditebang habis, seperti pinang, kelapa, dan sebagainya habis di tebas Kolikng. Kemudian Kolikng menantang Pak Macan berkelahi karena telah menyuruh dua orang anak mengambil gasing Dapok.    “Sekarang saya mau bunuh anak itu karena telah menghabiskan gasing anak saya, sini saya pancung kepalanya”, kata Kolikng. Kemudian mulai lagi Kolikng membabat segala yang ada di sekitar halaman rumah Pak Macan. “Jangan begitu Kolikng, naik dulu. Mereka bermain dengan Dapok karena saya yang menyuruh. Kalau bukan saya yang menyuruh, mereka tidaklah begitu”, kata Pak Macan.
“Ke sini, biar saya cincang kepala kalian”, kata Kolikng.
“Kalau mau membunuh mereka naik dulu”, kata Pak Macan.
Mereka berdua pun sangat ketakutan setelah mendengar ancaman Kolikng yang hendak membunuh dan memancung kepala mereka. Namun, ajakan Pak Macan mengajak Kolikng ke rumah dengan terpaksa dipenuhinya. “Duduk dulu, saya mau bercerita. Kamu harus tahu bahwa sebenarnya inilah anakmu. Kalau bukan saya yang memeliharanya tidaklah dia sebesar sekarang ini. Istrimu dulu diayunkan Dogak dan dilambungkannya hingga terlempar ke kebun Liak saya maka saya pelihara. Kebetulan, istri saya juga melahirkan waktu itu”, kata Pak Macan. Kolikng pun mendengarkan dengan seksama cerita Pak Macan sembari meletakkan parangnya yang dari tadi siap dugunakan untuk membunuh Sampuatn Benyuti dan Peti Bernyanyi. Akhirnya, Kolikng memercayai cerita Pak Macan dan ingin melihat istrinya Damia. Pak Macan pun memanggil Damia.
“Keluarlah Damia, suamimu datang”, kata Pak Macan.
“Tidak mau, saya takut dengan orang yang mau membunuh anakku. Siapa yang berani”, kata Damia. Setelah itu, Pak Macan menceritakan panjang lebar tentang kejadian yang menimpa istrinya dan segala yang terjadi dengan Dogak kepada Kolikng. “Oh begitukah ?”, kata Kolikng.
“Itulah, kalau kamu tidak tahu, sesungguhnya istrimu yang ada di rumah itu Dogak. Dia menelan “sengkalatn” lalu hamil dan melahirkan Dapok”, jelas Pak Macan.
Mendengar penjelasan Pak Macan, Kolikng pun mememinta ampun kemudian dia mengajak anak istrinya pulang.
“Ayo pulang”, kata Kolikng.
“Tidak mau, saya takut”, kata Damia.
“Biar saya bunuh Dogak nanti”, kata Kolikng.
Kemudian Kolikng pulang ke rumah, setibanya di rumah, ia langsung disambut oleh Dogak yang telah mengaku sebagai istri Kolikng.
“Mati belum anak itu”, kata Dogak.
“Ah jangan banyak bicara”, kata Kolikng.
Diam-diam Kolikng mengasah parang sambil mengucapkan berkata “kerang kerang kerong, mau makan hati Dogak”. Mendengar kata-kata Kolikng Dogak berujar “Merinding bulu kudukku”, kata Dogak dalam hatinya.
“Kamukah yang bernama Dogak”, kata Kolikng.
“Tidak, saya bukan orang yang bernama Dogak”, kata Dogak
“Kerang kerang kerong, mau makan hati Dogak”, kata Kolikng.
“Itu sih mau membunuh saya”, kata Dogak keceplosan.
Melihat gelagat Dogak, Kolikng pun mengambil sebiji telur sembari mengajak Dogak ke sungai. “Ayo kita ke sungai. Bersihkan badanmu, kalau belum seputih telur ini kamu membersihkan badan kamu awas”, kata Kolikng.
“Jadi kamu mau membunuh saya”, kata Dogak kepada Kolikng. Mendengar perkataan Dogak Kolikng hanya diam saja.
“Ayo Dapok kita ke sungai. Kamu dan ibumu mandi supaya badan kotor kalian bersih digosok dengan sabut”,  kata Kolikng. Keduanya digosok-gosok oleh Kolikng dengan sekeras-kerasnya untuk menghilangkan kotoran hitam yang melekat ditubuh mereka. Dogak merintih kesakitan “Ini sih mau membunuh bukan mau membersihkan”, kata Dogak. “Ya, aku memang berniat membunuh kamu”, kata Kolikng. “Tapi aku ini istrimu Kolikng”, kata Dogak. “Bohong”, sahut Kolikng keras. “Aku telah menunggumu bertahun-tahun. Tapi ini balasanmu kepadaku”, kata Dogak. “Tapi kamu telah berbohong dan menipuku. Kamu bukanlah istriku Damia. Kamu itu Dogak yang telah mengaku-ngaku sebagai Damia istriku”, kata Kolikng. “Aku mau membunuhmu sekarang”, seru Kolikng. “Kamu tidak akan dapat membunuhku sebab kalau kau bunuh aku maka aku dapat saja membunuh anak istrimu”, kata Dogak. “Bagaimana kamu mau bisa membunuh anak dan istriku sedangkan kamu aku bunuh dan mayatmu aku buang”, kata Kolikng. “Perlu kamu ketahui, kalau kamu bunuh aku dan kamu buang tubuhku ke sungai maka aku akan jadi lintah yang juga akan membunuh anak-istrimu. Kalau kamu buang tubuhku ke darat maka aku menjadi ular berbisa yang akan menggigit anak-istrimu juga”, kata Dogak.
            Mendengar penjelasan Dogak, Kolikng sempat berpikir keras dan merenungi akibat-akibat yang terjadi kalau dia membuang sembarangan mayat Dogak. Akhirnya dibunuhnya Dogak dan dilemparkannya ke atas sehingga tubuh itu berubah menjadi burung Kaak (sejenis burung Elang). Sedangkan Dapok ditendangnya sehingga berubah menjadi Sengkalatn. Kolikng pun lega dan berbesar hati karena telah menyingkirkan Dogak dan Dapok dari kehidupannya.
Setelah tidak ada Dogak dan Dapok dalam rumahnya maka dibersihkan rumahnya dengan sangat bersih. Semua barang, baju, tikar, dan selimut yang pernah dipakai oleh Dogak direbusnya dengan air panas. Selesai direbus segala barang itupun lalu dibuangnya. Adiknya Salulutn memperhatikan semua yang dilakukan abangnya Kolikng. “Itulah, kamu tidak percaya dengan saya, saya yakin segala tingkah lakunya, wajahnya semuanya mirip seperti kamu”, kata Salulutn.
“Siapa yang tahu. Saya kira semua pengakuannya benar”, kata Kolikng.
“Tidakkah kamu lihat Dogak itu seperti orang gila ketika kita datang dulu”, kata Salulutn. “Ya, sudahlah. Yang lalu biar saja berlalu”, kata Kolikng. “Aku memang salah menilai”, lanjut Kolikng.

Setelah Kolikng selesai membersihkan rumahnya itu, ia kemudian memboyong istrinya Damia, dengan membawa emas tujuh buah kodum (khusus tempat menyimpan barang-barang berharga dalam masyarakat Dayak). Ia pun menuju rumah Pak Macan untuk membawa istrinya kembali ke rumah. Sesampainya ia di rumah Pak Macan, ia langsung menemui Pak Macan dan mengutarakan maksud hatinya. “Sekarang saya mau memohon maaf kepada Pak Macan. Saya mau mengambil anak dan istri saya”, kata Kolikng. Mendengar niat Kolikng Pak Macan pun merelakan. “Apa boleh buat, sebenarnya setelah saya memelihara Damia dan anaknya maka mereka sudah menjadi milik saya. Tetapi kamu sudah punya niat yang tulus dan baik untuk merawat mereka maka saya pun rela”, kata Pak Macan. “Sekarang saya memberikan tujuh buah kodum berisi emas sebagai tanda permohonan maaf dan sebagai balas budi”, kata Kolikng. Kemudian Pak Macan menerima kodum tersebut. Dengan demikain, Damia dan anaknya kembali pulang ke rumah Kolikng dan mereka berkumpul kembali menjadi keluarga yang bahagia.

Rabu, 28 Oktober 2015

Rain forests

The rainforest
A green sea of ferns, mosses, vines and ancient trees. Iridescent butterflies and colorful birds. Flowers in every hue of the rainbow. The “green lung” is a natural wonder of the world. Find out more about the world’s most diverse, fascinating and threatened ecosystem.

·         ABOUT

Orangutans are dependent on large contiguous rainforest areas

The tropical rainforest is an eternally green band that spans the Earth at the equator. Its climate preconditions – high temperatures and at least two thousand liters of rain per square meter per year – have given rise to perhaps the most remarkable ecosystem on the planet in the Amazon, Congo Basin and Southeast Asia.
The rainforest is also the world’s most diverse habitat. Covering no more than five percent of the planet’s land area, tropical rainforests are home to half of all animal and plant species. Yet this rich heritage is in jeopardy. The forests are being cleared – mainly by timber, palm oil, soybean and mining companies – and with each tree felled, we lose a bit of biodiversity. 
More than half of the planet’s rainforests have already been cleared, and further areas have suffered grave damage or have been fragmented into many small islands of forest. Every one of the forest giants is the habitat of hundreds of further plant and animal species, and when a tree is cut down, its inhabitants also perish. Every human intervention further upsets the delicate interdependence of plants and animals.
Despite lip service and efforts to the contrary, the pace of rainforest destruction has not slowed. Around 10.4 million hectares – and of that total, 6.3 million hectares of primary forest – are still disappearing every year. The forest, with its biodiversity and intricate interdependencies of its inhabitants, is more threatened than ever.
Find out more about this natural environment and why it is so worthy of protection on the pages below. We need your help in preserving the last rainforests!


Jumat, 15 Mei 2015

Cerita Tentang Kopi, Cinta, dan Persahabatan

Jika aku mengingat kata kopi, satu hal yang akan muncul di pikiranku adalah sesuatu yang beraroma. Bila memeluk lidahku rasanya pahit, sedikit asam ketika mencapai tenggorokan, tapi begitu didiamkan, rasanya hangat, lalu ada sedikit sensasi yang diam-diam membuatku melayang-layang. Aroma itu tentang harum yang ketika hidungku menciumnya seperti ada atmosfer tersendiri. Nah, demikian adalah sedikit tentang kopi dalam pikiranku.

Kopi adalah sebuah passion, kopi juga sebuah cerita. Sejak beberapa waktu lalu, kopi menjadi topik tersendiri yang membentuk jalan cerita dan menjadi sumber inspirasi terbesarku untuk menulis. Mengecap rasanya yang pahit kadang-kadang mengingatkanku akan hidup. Hidup itu seperti kopi. Kadang-kadang kita mesti merasakan pahitnya dulu sebelum mencapai sensasi terdahsyatnya. Kopi memberiku banyak sekali pelajaran tentang hidup. Tentang bagaimana dalam menikmati sebuah kopi kita harus pelan-pelan dan nggak boleh terburu-buru agar rasanya masih membekas di lidah. Hidup pun seperti itu. Kita harus melewati proses demi proses untuk merasakan sari patinya.
Kopi juga membawa kisah yang jika aku menyebutnya, seperti sebuah persahabatan. Kopi, tempat ngopi, semua identik dengan cinta dan persahabatan. Mencintai kopi berarti mencintai satu paket rasa dalam kopi itu; pahit, manis, asam, panas. Seperti halnya sebuah persahabatan yang harus menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing dari kita. Tempat ngopi memberiku filosofi tentang waktu dan nikmatnya kebersamaan.
Jika menghabiskan waktu bersama kopi, jelas kita tidak mungkin hanya membutuhkan waktu 5 menit atau 10 menit. Kita membutuhkan waktu yang lama, bahkan berjam-jam. Karena selama kopi itu kita rasakan, akan ada cerita yang mengalir dari mulut kita masing-masing. Lantas kita belajar. Sebab dari cerita kita akan tahu, sebab dari kata hati yang diucapkan secangkir kopi, kita akan kaya. Kaya akan pelajaran, kaya akan pengertian, dan kaya akan makna dari sebuah persahabatan.
Lantas bagaimana bisa disebut sahabat jika masih ada kata-kata yang tersembunyi di balik hitam pekatnya kopi. Sedangkan untuk rasa di balik espresso, kita masih bisa mengecapnya.
Teman itu bukan kita yang harus selalu baik di depannya. Teman juga bukan orang yang selalu jadi dewa. Sebab kita tidak pernah tahu yang mana dewa yang mana iblis jika sebelumnya kita tidak mengenal mereka semua.
Teman adalah mereka yang berani mengatakan kamu salah, lantas kamu berpikir bagaimana dia menganggapmu salah. Teman tidak pernah iri, teman tidak menyimpan dendam. Sebab pertemanan yang dirajut waktu akan membentuk persaudaraan. Dan saudara tidak pernah berbohong. Sama seperti rasa kopi. Ia tidak akan menyembunyikan rasa aslinya. Ia akan tetap pahit dan asam sekalipun sudah dicampur menjadi vanilla latte, moccacino, atau caramelly latte sekalipun.
Sebab persahabatan adalah kopi. Dan kopi memberiku banyak sekali sekali cerita tentang rasa cinta dan persahabatan. Aku ingin persahabatan kita seperti kopi. Aku ingin cinta kita seperti kopi.

Jumat, 06 Februari 2015

DESIR RINDU ILALANG

Tak lagi jatuh mawar itu
Ia mengemasi rantingnya sendiri
Kering namun tak kerontang

Sajakku saja di kelopaknya
Membenahi puing-puing dedaunan yang kisruh menjatuhkan diri
Sudah pergi ...
Sudah hilang bersama semilir senja

Bulir embun meriyak
Menjamah muara di tepian telaga

Ilalang ...
Ilalang merindu sendu
Mengapung dibeningnya serambi hati
Merah
Menyapanya
Desir rindu yang ditunggu
Membiarkan dia tak kembali
Dalam selaksa rindu kumerajuk
Tak mengapa ...
Rindu....

Selasa, 24 Juni 2014

surat cinta dari sangsakala

ya Allah
telah kami terima surat cintamu
tertanggal hari ini yang dikirim peniup
seruling sejati diantara kealfaan dan
keasyik masyukkan kami surat cinta yang
engkau tulis dengan tinta biru sebagai
tanda kasih dan maha sayangmu surat cinta
yang begitu panjang menegangkan yang engkau
tulis tak sampai dalam satu tarikan nafas
membuat kami terus menangis terisak tersedu
membaca gugusan kata-kata hancur berserak dengan
tubuh dan nyawa terlunta-lunta

surat cinta yang bercerita tentang tanah darat
laut udara sebagai ungkapan rindumu yang membuat
kami malu kami tau inilah surat cintamu yang
telah engkau janjikan itu dan telah kami terima
saat mata hati dan perasaan kami menjauh fana

ya Allah
inikah surat cintamu dengan segala
keputusan yang harus kami terima selain bencana
korupsi yang nyaris membuat kami hilang akal
dan putus asa surat cinta yang kertasnya
lembab di tangan kesedihan tak berkira dengan
torehan luka maha dalam
surat cinta yang bercerita tentang hujan dan panas
surat cinta yang bercerita tentang air berwajah
beringas dengan lidah api dari laut lepas surat
cinta yang bercerita tentang angkasa dan
burung-burung meranggas
surat cinta yang bercerita tentang pohon-pohon
dan akar yang dikelupas
surat cinta yang bercerita tentang tanah pasir
dan lendir panas
surat cinta yang bercerita tentang tanah
rumah dan nyawa yang hilang nafas
ya Allah
inikah surat cintamu yang penuh cemburu itu
yang dikirim peniup seruling sejatimu
disaat kami lupa mengingat dan merayumu
surat cinta yang memang sepatutnya kami terima
sebagai bukti bahwa kau benar-benar maha
mencintai sementara kami berpaling dari kemaha
asih dan sayangmu
ya Allah
maafkanlah kami yang telah berselingkuh dari
kemaha setiaanmu dan berpaling ke cinta yang
tak kau ridhoi dengan menabur fitnah hasut dan
saling ingin menguasai tanah sekerabat sedarah
seurat tanah yang kau ciptabentang tegakkan urat
yang kau sebarsuburkan dan darah yang kau
alirhidupkan telah kami
rusak dengan saling mencacah menumbuk
penuh takabur dengan kekuatan
kerakusan dan keserakahan
tapi kini apa yang kami cintai itu telah
engkau ratakan dengan tanah harta tahta
dan dunia berubah runta darah daging dan tulang
membusuk dimana-mana

sekarang kami tak tau di mana ayah di mana
ibu di mana anak di mana adik di mana kakak
di mana ipar di mana keponakan di mana
saudara famili kerabat dan handai tauland
di mana di mana di mana yatim kan kami titipkan
ya Allah
hari ini kami baru sadar akan jalan pulang
setelah membaca surat cintamu yang panjang
menegangkan surat cinta yang mengingatkan kami
untuk bertandang menemu cahya menemu gulita
menemu alfa menemu cinta

surat cinta yang mengajarkan kami untuk
pulang ke bilik ke latifa ke bilik ke sadik
ke bilik baqa
ya Allah
ampunilah kami hamba-hambamu yang tak punya
malu ini ampunilah ampunilah ampunilah kami
ya Allah

Doa minta Jodoh

Tuhanku...
Aku berdoa untuk seorang wanita yang akan menjadi bagian dari hidupku, seseorang yang sungguh mencintai-Mu lebih dari segala sesuatu, seorang wanita yang akan meletakkanku pada posisi kedua di hatinya setelah Engkau, seorang wanita yang hidup bukan untuk dirinya sendiri tetapi untuk-Mu.

Wajah yang cantik dan daya tarik fisik tidaklah penting bagiku, yang penting adalah sebuah hati yang sungguh mencintai dan dekat dengan Engkau dan berusaha menjadikan sifat-sifat-Mu ada pada dirinya, dan ia haruslah mengetahui bagi siapa dan untuk apa ia hidup sehingga hidupnya tidaklah sia-sia.

Seseorang yang memiliki hati yang lembut dan tidak hanya otak yang cerdas, seorang wanita yang tidak hanya mencintaiku tapi juga menghormatiku, seorang wanita yang tidak hanya memujaku tetapi juga dapat menasehatiku ketika aku berbuat salah.

Seseorang yang mencintaiku bukan karena apa yang aku punya tapi karena hatiku, seorang wanita yang dapat menjadi sahabat terbaikku dalam setiap waktu dan situasi, seseorang yang dapat membuatku merasa sebagai seorang pria ketika aku di sisinya.

Tuhanku...

Aku tidak meminta seseorang yang sempurna namun aku meminta seseorang yang tidak sempurna, sehingga aku dapat membuatnya sempurna di mata-Mu, seorang wanita yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya, seorang wanita yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya, seseorang yang membutuhkan senyumku untuk mengatasi kesedihannya, seseorang yang membutuhkan diriku untuk membuat hidupnya menjadi sempurna.

Tuhanku...

Aku juga meminta, buatlah aku menjadi pria yang dapat membuatnya bangga, berikan aku hati yang sungguh mencintai-Mu sehingga aku dapat mencintainya dengan sekedar cintaku.

Berikanlah sifat yang lembut lembut yang datang dari-Mu, berikanlah aku tangan sehingga aku selalu mampu berdoa untuknya, berikanlah aku penglihatan sehingga aku dapat melihat banyak hal baik dan bukan hal buruk dari dalam dirinya, berikanlah aku mulut yang penuh dengan kata-kata bijaksana, mampu memberikan semangat serta mendukungnya setiap saat dan tersenyum untuk dirinya setiap pagi.

Dan bilamana akhirnya kami akan bertemu, aku berharap kami berdua dapat mengatakan: “Betapa Maha Besarnya Engkau karena telah memberikan kepadaku pasangan yang dapat membuat hidupku menjadi sempurna.”

Aku mengetahui bahwa Engkau ingin kami bertemu pada waktu yang tepat, dan Engkau akan membuat segala sesuatunya indah pada waktu yang telah Engkau tentukan.
Amin....

Kamis, 22 Mei 2014

Yang Telah Lama Usang

Diamku cinta,
Pelipur hati penjaga pandangan mata.
Diam saja, tak perlu bicara.

Riak-riak yang kusimpan sendiri di hati,
Mengapa enggan pergi?
Mengapa memilih tinggal tak kembali?

Disini hatiku,
Memandang Tuhan dari sisi aku.
Menyebut namamu entah di sudut kalbu.

Diamku cinta,
Melihatmu yang istimewa di hatiku saja.
Nyatanya malam dan siang tiada beda.
Namamu saja, hanya namamu.
Mengapa tak beranjak?
Mengapa tak menepi sejenak?

Siapa kau?
Berani tinggalkan risau?
Di hatiku.

Doa dan puisi senada seirama.
Ucap dan harap tanpa sisa.
Hanya untukmu.
Kepadamu saja.

Tuhan Maha Cinta,
Tuhan yang kucinta.
Melihatku yang mencintaimu.
Menyebutmu di tiap doaku.

Kamu. Ya, yang telah usang dari benciku.
Karena yang ada hanya,
CINTA….

Rabu, 21 Mei 2014

Teenage Dream

Kutipan Cinta Tapi Beda ♥

"Cinta itu adalah sebuah obyek seperti obsesi. Setiap orang menginginkannya, setiap orang mencarinya, tapi sedikit orang yang mendapatkannya. Orang yang pernah melakukannya akan selalu menghargai cinta, tersesat di dalamnya dan tidak akan melupakannya."


"Cinta sejati tak akan terpisah karena jarak, tak akan berubah karena waktu, dan tak akan hilang hanya karena amarah."

"Cinta adalah untuk bahagia. Ketika cinta menjadi penyebab air mata, itu adalah jalan menuju bahagia."

Ketika cinta menyapa, kamu takkan pernah berhenti mencoba. Karena ketika kamu menemukan dia yg pantas dicinta, kamu takkan pernah menyerah."



"Ketika kau jatuh cinta, kau tidak akan bisa tertidur karena kenyataan akhirnya lebih jelas daripada mimpimu." 


Cinta dapat mengobati patah hati, kesialan, atau sebuah tragedi. Cinta itu sahabat abadi"

"Cinta sejati adalah ketika hatimu dan pikiranmu mengatakan hal yang sama."

 Hidup telah mengajarkan kita bahwa cinta tidak berisi "saling memandang", tapi cinta berisi "bersama-sama melihat satu arah yang sama."


Cinta itu tidak pernah salah yang salah adalah orang yang menyalahgunakan cinta dan membuat orang lain terluka"

Dalam cinta tak perlu dia yang berkata bersedia mati untukmu, sebab kamu membutuhkan dia yang bersedia hidup bersama denganmu"

Cinta adalah sebuah kata yang tak persis pengertiannya, kecuali ketika kita merasakan sakitnya."

 " Setiap orang dapat memegang matamu, tapi membutuhkan seseorang yang spesial untuk memegang hatimu"
  

"Cinta tidak pernah buta.. Hanya manusia yang buta menilai cinta. Hargai cinta, karena cinta bermakna"

Kamu datang kepada cinta bukan mencari orang yang sempurna, namun untuk melihat orang yang tidak sempurna secara sempurna"

Cinta sejati selalu datang pada saat yang tepat, waktu yang tepat, dan tempat yang tepat. Ia tidak pernah tersesat."

 " Kasih sayang tak hanya ditunjukan oleh sanjungan dan pujian, tetapi juga teguran atas kesalahan dan kelalaian"

Dia yang tulus mencintaimu tidak akan berjalan didepanmu, atau tertinggal dibelakangmu. Dia akan selalu berjalan disampingmu :) " 

"Cinta itu bukan apa yang dipikirkan oleh akal, tapi cinta adalah apa yang dirasakan oleh hati, bagaimana jika perbedaan tetap mengikuti perasaan hati dan tidak mengikuti akal?"

Aku bahkan lupa kita beda...
karena rasanya cinta sudah cukup untuk membuat kita tersenyum tiap hari...
Alasan yang cukup kuat untuk diperjuangkan."


 " Pasti ada yang terluka karena kita, padahal cinta kan seharusnya membuat bahagia"

Kebencian tidak akan berhenti dengan kebencian lagi; hanya dengan cinta; ini adalah aturan yang abadi."

Hal-hal terbaik dan terindah di dunia ini tidak bisa dilihat atau disentuh. Semuanya itu harus dirasakan dengan hati."

Hal yang paling penting dilakukan di dunia ini adalah mendapatkan makanan, minuman dan seseorang yang mencintaimu."

Yang penting percaya dengan apa yang kita yakini, DIA tidak pernah tidur"

Tidak ada aturan ketika mencintai, karena kamu tidak pernah tahu dengan siapa kamu akan jatuh cinta"

 "Restu adalah Hak seorang anak" - Hanung Bramantyo

Banyak perbedaan, banyak cerita, itulah yang membuat perbedaan begitu bermakna"

Aku tidak tau mengapa sampai sejauh ini kita melangkah, namun tidak tahu arah dan tujuan. Jujur masih tersirat di benaku kegelisahan karena perbedaan"

Mengenalmu adalah suatu anugerah
Menyakitimu adalah suatu larangan.
Mendampingimu adalah suatu kebahagiaan.
Meninggalkanmu adalah suatu kebodohan."


Kenapa Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda namun Tuhan harus disembah harus dengan satu cara? Oleh karena itu Tuhan menciptakan Cinta, supaya yang berbeda-beda bisa tetap bersama "

"Namun Cinta adalah sepandai-pandainya kau menghapus air mata"

Cinta yang tidak dipersatukan di Dunia mungkin disimpan-Nya untuk dipersatukan di akhirat"

Cinta harus saling memahami, mengasihi, dan menerima apa adanya. Perbedaan bukan menjadikan sebuah alasan untuk tidak saling mencinta."

Keinginan untuk selalu bersama, dan latar belakang yang berbeda, menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang, yang merubah jalan hidup mereka. Banyak hal yang harus dikorbankan untuk memperjuangkan cinta mereka"

Dua orang yang mengalami Cinta Tapi Beda..mereka sesungguhnya telah diikrarkan bukan karena keyakinan, tapi karena cinta..."

Perbedaan bukanlah alasan untuk berpisah. Harusnya, kita bisa memberi jalan untuk satukan harapan"

Segalanya tak mungkin disatukan, tapi cinta membuat dua orang berjuang bahkan untuk hal yang mustahil."

Mengajak Tuhan bicara dengan bahasa yang berbeda, terjadi percakapan sederhana dengan bulir air mata."

Kita bukan Istiqlal bukan juga Katedral, namun jika mereka bernyawa, apakah mereka akan saling jatuh cinta?"

Jika memang perbedaan menjadi alasan kita menghentikan langkah, haruskah kita berpisah?"


"Cinta adalah ketika kau menengadahkan tangan, aku melipat tangan; kita saling mendoakan."

Cinta Dalam Secangkir Kopi

Akhirnya gue posting lagi di blog ini setelah beberapa bulan ga nge-blog. Ga kerasa sekarang gue udah mau masuk semester 3 di kampus. Gue berharap nilai di semester kemarin masih stabil setelah banyak hal yang terjadi dalam hidup gue. Postingan tentang indahnya hidup gue yang selalu bersentuhan dengan kopi. Tentang warna hidup. Yang ada kalanya dapat gue rasain saat gue menghirup secangkir kopi. Begitupun dengan cinta yang gue rasa.
Well, udah 3 minggu ini gue merasa ada yang aneh. Seperti ada yang hilang dalam hati gue. Rasanya sesak untuk menghela nafas. Mungkin gue berlebihan. Tapi pernahkah kalian ditinggalkan oleh orang yang sangat kalian sayangi, dan dia sangat menyayangi kalian?. Sekarang gue sedang merasakan itu kawan!
Liburan semester lalu gue bertemu seseorang yang ga lama setelah itu menjadi sahabat, kakak, musuh, supporter, kekasih, dan teman minum kopi gue paling istimewa (liat posting sebelumnya). Kalo mau tau lagi, dialah yang desain blog gue ini jadi kaya gini. Dia ada saat gue jatuh, dia meyakinkan gue semua akan baik-baik aja saat gue sedih, dialah penyemangat gue ketika gue males, dia adalah orang yang paling marah ketika gue melakukan hal-hal khilaf. Tapi sekarang ketika liburan semester kembali datang, dia pergi. Dia memutuskan untuk tidak berada disisi gue lagi.
Gue sedih, sangat sedih. Gue merasakan kehilangan yang teramat sangat. Tapi gue sadar, mungkin inilah salah satu buah yang gue petik dari ketidakdewasaan gue. Gue sadar gue terlalu kekanak-kanakan untuk pria dewasa seperti dia. Dan mungkin inilah salah satu cara Tuhan untuk membuat gue jadi dewasa. Ya, i know you love me more God.
Terkadang gue berfikir, salahkah anak kecil seperti gue bermimpi bisa menjadi pendamping sejati dia?. Bisakah gue terus jadi teman minum kopi dia hingga akhir hayat?. Oh God…, gue sayang dia. Tapi terbersitkah gue sedikitpun di benak dia?
Gue sadar, gue diperbolehkan galau. Tapi tidak untuk menjadi labil. Pun dengan memposting tulisan ini, gue ga bermaksud mengajak kalian untuk ikut galau. Gue hanya pengen berbagi dengan kalian yang mungkin pernah merasakan hal yang sama seperti gue, atau mungkin kalian bisa belajar dari kisah gue.
U know what, setelah tiga minggu gue berusaha tegar. Gue yakin mampu, sanggup melanjutkan hidup tanpa dia. Ya, gue bisa. Tapi gue berantakan. Gue berusaha ngerjain tugas kampus di tengah hati gelisah. Berusaha meneruskan novel di tengah kegundahan. Gue bisa. Gue yakin bisa. Dan gue pasti bisa!!
Yang gue rasa adalah sepi. Tersadar ketika gue menyeruput kopi di hirupan pertama, saat itulah gue sadar dia ga ada lagi di samping gue. Ditambah ketika gue berjalan di keramaian, saat itulah rasanya gue terhenyak di semua tempat yang pernah gue kunjungi bersama dia. Ya, gue rindu. Rindu suaranya. Rindu marahnya. Rindu jayusnya. Rindu tawanya. Rindu tangisnya ketika gue bilang gue juga sayang dia. Dan gue rindu saat kita duduk berdua sambil menyeruput cappucino.
Oh Tuhan…., gue tau waktu ga bisa diputar. Kekanak-kanakan gue, kepasrahan dia, dan ketidakberdayaan gue yang membuat kita sekarang melangkah di jalan masing-masing. Mungkin kini juga dia sedang berusaha mencari kembali seseorang yang bisa bersamanya lebih dari sekedar cinta, untuk hidup bersama selamanya. Entahlah. Gue hanya bisa mendoakan yang terbaik buat dia. Semoga dengan siapapun nanti ia hidup bersama, ia akan bahagia. Karena gue percaya, dia adalah seseorang yang sangat baik.
Dan gue, harus tetap berusaha menjalani hidup sebaik mungkin. Memanfaatkan masa muda sebaik-baiknya dan berjuang meraih cita-cita. Gue harus ikhlas menerima semua yang telah Tuhan gariskan di dalam hidup gue, meski itu tanpa dia. Gue yakin, dia pun mendoakan gue yang terbaik. Tak sedikitpun di benak gue ada kebencian untuk dia.
Gue sayang dia. Masih sayang dia. Dan akan terus menyayangi dia. Sebagai teman, kakak, atau mungkin jika Tuhan berkehendak mempertemukan kita kembali dalam ikatan suci, sebagai bidadarinya suatu saat kelak. Dan kita akan kembali menyeruput kopi berdua.
Ps: Cinta tak hanya butuh berharap, ia juga butuh diperjuangkan.
rangkuman dari cerita temen tentang kisah cintanya. #aseeeekkk

Jatuh cinta dan Patah Hati

Dimulai dari pengalaman jatuh cinta gue pada saat gue masih SMA (berasa tua banget! hehe), diam-diam gue pernah jatuh cinta sama seorang cowok yang cerdas, pendiam, dan bisa dibilang alim (sebut aja dia Abi). Gue menutup rapat perasaan gue ke dia dari pertama kali masuk SMA. Dan sama sekali nggak berusaha buat bilang kalo gue udah lama sayang sama dia. Sampai pada akhirnya perasaan itu kebuka lebar di dalam novel pertama gue dan membuat dia tau yang sebenarnya. Sayangnya, itu terjadi setelah cukup lama dia pergi dari hidup gue. Gue sadar, gue bodoh. Tapi gue selalu inget kata orang yang bilang:
‘Kalo sayang sama orang itu jangan tanggung2, buat dia selalu bahagia. Bahkan kalo tanpa kita dia lebih bahagia, maka lepaskanlah….’
Maka perasaan gue menguap gitu aja seiring dengan kepergian dia yang memutuskan untuk pindah dan kuliah di luar kota. Sempet juga gue kacau. Sakit. Dan dengan berhasil dia udah buat gue pernah nyasar dari Blok M-Harmoni ke Blok M lagi! Hehehe
Setelah dia pergi, hampir dua tahun gue nggak kenal kata ‘jatuh cinta’. Gue sibuk dengan hari-hari gue yang sepertinya kosong. Sampai akhirnya gue ketemu teman lama gue yang lucu, gila, tapi cerdas (sebut aja di Adul). Tanpa disangka gue ketemu sama teman yang bahkan nggak pernah gue bayangkan akan bisa dekat sama dia. Dan hasilnya, dia selalu bisa bikin gue ketawa setelah sekian lama gue menangisi hal yang nggak pasti. Dia nunjukkin ke gue kalo hidup dengan tawa itu lebih asik. Dan ternyata, kita punya hobi yang sama yaitu nulis.
Gue nggak nyangka dia bisa menulis secerdas tulisan2nya yang selalu ia tunjukin ke gue dan dimintai pendapat. Dia juga seorang yang idealis dan sangat pemikir. Bareng dia, gue selalu berada di posisi nyaman. Gue selalu ngerasa tenang. Kita selalu aja betah berlama2 chat sampe malem via YM atau fb. Dia juga selalu support gue untuk nyelesain tulisan2 gue.Sampe2 nilai akademik gue pun jadi meningkat lebih baik. Dan gue senang.
Dia pernah bilang gini: ‘Cinta itu emansipasi. Setiap orang punya hak untuk sayang sama seseorang. Tapi seseorang itu juga punya hak untuk membalas perasaan orang yang menyayanginya atau tidak’. Super sekali!
Sampe gue sadar, kalo gue jatuh cinta (lagi) sama teman lama gue ini. Dan dengan nekat namun galau, gue ngirimin puisi dengan maksud bilang kalo gue sayang sama dia. Lama gue nunggu jawabannya. Lalu dia bilang: ‘Ga apa2, itu hak kamu…’. Dan nggak bilang apa2 lagi. Sampai hari ini.
Dengan kata lain, “Haiii…, aku digantung lho..” hehehe
Darisitu gue jadi inget kata2 Oscar Wilde yang bilang:
‘Seperti dua kapal yang berpapasan sewaktu badai,kita telah bersilang jalan satu sama lain; tapi kita tidak membuat sinyal, kita tidak mengucapkan sepatah katapun, kita tidak punya apapun untuk dikatakan’. Ya, mungkin seperti itulah gue dan dia.
Dan episode jatuh cinta gue yang terakhir itu terjadi saat gue semester 2. Waktu gue ikut trip workshop ke beberapa stasiun tv dan radio dari kampus. Waktu itu gue duduk di bangku depan bis pada saat perjalanan menuju tempat workshop. Dan disitu gue ngeliat dia. Pada saat panitia ngabsen peserta workshop, dia yang notabene ketua pelaksana (sebut aja Yanto) berdiri tepat di depan mata gue.
Menurut gue, dia orang yang sangat kharismatik meskipun tidak terlalu tampan (hehe maaf ya kak), gue kagum sejak pertama kali liat dia. Sampe setelah workshop, kita nggak pernah ketemu lagi dan gue pun lupa sama wajahnya.
Tapi tiba-tiba dua semester berselang, gue liat dia di lorong gedung fakultas. Gue seneng. Karena udah lama nggak ketemu dan hampir lupa juga sama mukanya. ‘God, do we meet again?’
Tapi sayang, dia nggak kenal gue. Dan gue bukanlah orang yang pandai berbasa-basi hanya sekedar untuk kenalan.Walaupun sahabat2 gue tau gue pengen banget kenal dia, tapi mereka selalu gagal untuk mewujudkannya karena gue yang malu (padahal malu2in) hihi
Tapi persis seperti yang ditulis Bang Radith di bukunya, kalo orang yang jatuh cinta diam2 itu selalu dengan pintar mengintai orang yang mereka taksir. Mereka akan selalu dengan cekatan mencari tau apapun tentang si dia. Begitu juga dengan gue.
Gue tau banget ciri2 fisiknya meski di kampus banyak pria bermata empat jalan di sekeliling gue. Dari seorang teman, gue juga tau di lagi magang di stasiu tv ‘merah’ sebagi seorang switcherman. Gue tau dia suka banget maen sepeda fixie. Gue tau dia belom lama ini habis kehilangan adik kecilnya yang sangat dia sayang. Dan masih banyak lagi yang gue tau tentang dia. Ya, gue tau dia adalah orang yang menyenangkan. Tapi sayang, gue cuma bisa menatap dia dari jauh pada saat dia lagi bareng temen2nya.
Sampe akhirnya, gue berhasil nemu fb-nya. Nyoba basa-basi buat kenalan, dia malah tanya hal yang bikin mata gue kebuka lebar: ‘Lo temennya (sebut aja dia Bunga) yaa?
Ya, ternyata eh ternyata pemirsaaa..
dia tidak tertarik pada saya, tapi pada sahabat saya…
Hhh..,Gue sedih. Rasanya perasaan gue campur aduk. Tapi Gue nggak bisa nyalahin dia. Gue juga nggak bisa nyalahin sahabat yang gue sayang banget. Dan nggak mungkin juga posisinya gue untuk bersaing dengan sahabat sendiri. Memang gue belum jatuh cinta, karena butuh proses panjang untuk memutuskan sampai pada kata cinta itu sendiri. Tapi paling nggak, dia udah berhasil bikin gue semangat kuliah semester ini dan selalu bikin gue senyum tiap hari di kampus. Dia dengan sejuta kharismanya bikin semester ini penuh warna buat gue. Setelah itu, gue harus cukup puas karena udah jadi temannya meski cuma di fb dan twitter! Hehehe
Pada akhirnya, benar juga apa yang dibilang Bang Radith di akhir paragraf, bahwa pada akhirnya orang yang jatuh cinta diam-diam itu harus merelakan. Yang dibutuhkan orang yg jatuh cinta diam-diam itu hanyalah menerima. Dan mendoakan semoga dia bahagia dengan siapapun yang mereka dapatkan nantinya.
Karena sejuta kata ‘kenapa’ nggak akan bisa menjawab semua pertanyaan2 di hati kita. Dan sejuta kata ‘kenapa’ lama-kelamaan akan membuat kita mempertanyakan keputusan Tuhan. Bukankah sebaiknya kita selalu berprasangka baik sama Tuhan!?
Mungkin mereka bertiga adalah laki-laki yang baik. Tapi mereka bukanlah yang dipilihkan oleh Allah sebagai seseorang yang baik buat gue. Atau mungkin gue yang nggak baik buat mereka! Hehehe
Sampai terkadang gue sempat mikir, ‘jatuh cinta secara diam-diam itu lebih indah yaa…’. kita nggak perlu takut untuk patah hati karena kita menyimpannya untuk hati kita sendiri. Kita juga nggak perlu takut kehilangan.
Mungkin gue bodoh, chicken, atau bahkan looser, tapi gue percaya Tuhan akan memberikan yang Terbaik untuk hidup gue nantinya. Dan ini semua cuma kerikil kecil yang akan bisa membuat hati gue lebih besar untuk menerima apapun .
Gue rasa, sebenarnya perasaan itu lebih baik diungkapkan. Karena paling tidak, kita udah nyoba. Dan kalian juga nggak mau jadi kaya gue kann…?? Hehehe
Gue cuma mau bilang sama kalian yang mungkin pernah ngalamin hal yang 11-12 kayak gue, atau mungkin 13-13 alias sama banget, ya udah syukuri dan nikmati saja! Jangan terlalu lama mengasihani diri sendiri. Ketawain aja tuh kebodohan2 kita selama ini! Karena tertawa itu lebih sehat daripada menangis. Dan menertawakan hidup itu lebih baik daripada menangisi hidup. Kaya yang pernah gue denger di radio:
‘Orang yang mampu menertawakan hidup adalah Orang Yang Menyenangkan’
Benarkah…??
We’ll see…
Kalo dipuisikan mungkin jadinya kaya gini:
‘Aku Tak istimewa, tak punya selera…
Tak punya cukup hati untuk dicintai…’
Gue rasa segitu aja yaa share kali ini, semoga kita bisa saling ngingetin kalo Tuhan begitu baik dengan kita hingga ngasih kita hidup yang penuh warna.